Welcome

Jumat, 12 November 2010

Gelombang Baru Islamphobia di Barat

Aksi pelecehan terhadap kesucian agama Islam terus berlanjut di negara-negara Barat. Kebijakan anti Islam di Dunia Barat telah mendorong kelompok-kelompok ekstrim, rasialis dan kubu kanan untuk melakukan tindakan penghinaan terhadap Islam. Baru-baru ini, seorang warga Perancis di kota Strasbourg mengunggah rekaman video berdurasi satu jam di internet yang memperlihatkan aksinya merobek lembaran-lembaran kitab suci al-Qur'an. Dalam rekaman itu, pelaku menggunakan penutup wajah yang bergambar setan. 

Dewan Muslim Perancis dalam mereaksi aksi penistaan al-Qur'an itu mengeluarkan statemen yang mengecam keras tindakan tersebut dan menyayangkan terjadinya pelecehan kesucian agama di Perancis. Statemen Dewan Muslim Perancis menyebut aksi pelecehan tersebut sebagai satu bentuk ajakan kepada rasialisme dan kekerasan agama. Seraya menyinggung adanya foto-foto penghinaan terhadap al-Qur'an yang dikirim ke kantor Dewan Muslim Perancis, statemen tersebut menyeru warga Muslim untuk menahan diri dan bersikap bijak menghadapi aksi-aksi pelecehan.


Dalam beberapa bulan terakhir, gelombang anti Islam di Dunia Barat meningkat tajam termasuk aksi pembakaran al-Qur'an di New York September lalu. Semua itu menunjukkan bahwa ada yang menyetir aksi-aksi itu di balik layar untuk melecehkan Islam yang dilakukan dalam bentuk penyusunan buku, pembuatan foto, karikatur dan film yang menghina Islam bahkan pembakaran kitab suci umat Islam. 

Ketika gelombang anti Islam terus meningkat di dunia, sayangnya umat Islam seakan menutup mata dari fenomena ini. Setelah peristiwa 11 September 2001, gerakan anti Islam menjadi pendorong bagi negara-negara adi kuasa untuk intervensi secara militer dan politik di negara-negara Islam. Kelompok ekstrim di Barat menjadi terdorong untuk melakukan tindakan-tindakan yang jauh dari etika seperti yang dilakukan media massa Barat dalam memuat karikatur yang melecehkan Nabi Besar Muhammad Saw atau aksi pembakaran al-Qur'an. Pertanyaan yang mencuat ke permukaan adalah dari manakah munculnya gelombang anti Islam?
Di Dunia Barat, gerakan anti Islam bukanlah fenomena baru. Tak salah jika ada yang menyebutnya sebagai andapan emosi yang disisakan oleh perang Salib. Namun yang terjadi saat ini adalah gerakan anti Islam yang terprogram dengan menggunakan berbagai modus, taktik dan sarana yang canggih serta medan yang luas. 

Gelombang pertama program ini mulai terlihat pada akhir dekade 1980-an. Penyebabnya adalah keterkejutan Dunia Barat ditambah ketidakmampuannya melumpuhkan revolusi Islam di Iran. Bagaimanapun juga revolusi ini telah menyusahkan Barat karena menggugah bangsa-bangsa Muslim untuk sadar dan kembali kepada identitas mereka sebagai umat Islam. Akibatnya, generasi muda Muslim terpanggil dan gerakan kesadaran Islam bergerak dengan cepat di seluruh penjuru Dunia Islam. Kebangkitan bahkan merambah Eropa tepatnya ke kawasan Balkan dan Eropa Timur. 

Sebelum kemenangan revolusi, percaturan politik dunia selalu diatur berdasarkan pembagian pengaruh Blok Barat dan Blok Timur. Memang ada kelompok yang menamakan diri Gerakan Non Blok. Tapi dalam praktiknya, negara-negara GNB tetap tidak bisa lepas dari pembagian yang ada saat itu. Kemenangan revolusi Islam menawarkan hal baru yaitu blok yang menafikan kekuasaan Barat dan Timur. Faktor lain yang melahirkan gerakan anti Islam adalah meningkatnya arus imigrasi orang-orang Islam ke Eropa dan Amerika dengan tetap menjaga kesucian dan menolak melebur diri dalam nilai-nilai Barat. Barat terpaksa harus memikirkan upaya melawan fenomena ini. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah menjalankan kebijakan Islamphobia. Dengan cara itu, diharapkan gerakan Islam yang mengajarkan kebebasan dan keadilan bisa dibendung, dan kedua Islam yang menjadi penghalang bagi tegaknya hegemoni politik, militer dan ekonomi Barat bisa dilumpuhkan.

Di masa seperti itu, seorang penulis murtad Inggris bernama Salman Rushdie menulis sebuah buku yang disebutnya novel berjudul The Satanic Verses atau Ayat-Ayat Setan. Menyaksikan kemarahan Dunia Islam atas penulisan buku itu, negara-negara Barat malah mengumumkan dukungan dan perlindungannya kepada Salman Rushdie. Setelah tumbangnya Blok Timur dan bubarnya Uni Soviet, kebijakan anti Islam di negara-negara Barat terutama AS semakin menjadi-jadi. Alasannya adalah karena musuh utama Barat yaitu Blok Timur sudah tidak ada lagi, sehingga kubu Barat perlu memunculkan musuh bayangan. Mereka berusaha menampilkan Islam sebagai musuh baru yang berbahaya. 

Dalam menjalankan agendanya, Barat mengerahkan segala fasilitas termasuk sarana media propagandanya. Dengan kata lain, mereka masuk melewati celah budaya. Seiring dengan itu, teoretis Samuel Huntington tahun 1992 memaparkan sebuah teori yang diberi nama ‘benturan antar peradaban'. Berdasarkan teori ini, perbatasan geografis Islam dan Barat adalah ajang tempat terjadinya benturan di masa mendatang. Huntington menyebut Islam sebagai peradaban yang sangat berbahaya bagi peradaban Barat.

Langkah lain yang dilakukan Barat adalah menampilkan gambaran yang buruk tentang Islam dan ajaran agama ilahi ini. Salah satu yang mereka lakukan dalam kaitan ini adalah penyamaan Islam dengan kekerasan dan terorisme. Mereka menyebut Islam sebagai ajaran yang menistakan Hak Asasi Manusia, agama yang mendukung kekerasan, reaksioner, menentang sains dan menolak modernitas. Masih dalam propaganda Barat, Islam dikesankan sebagai agama yang melahirkan terorisme.

Setelah peristiwa 11 September 2001 yang menghancurkan menara kembar WTC dan satu bagian dari gedung pentagon di New York AS, gelombang gerakan anti Islam semakin meningkat. Koran Herald Tribune dalam sebuah artikelnya menyebut peristiwa 11 September sebagai bukti nyata akan adanya benturan antara peradaban Islam dan Barat. Sedemikian gencarnya media massa Barat menyerang Islam, sampai-sampai Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi dalam sebuah pernyataannya mencibir Islam dan menyebut peradaban Barat sebagai peradaban yang lebih kokoh dibanding peradaban Islam.

Fukuyama, salah seorang teoretis Barat di AS dalam sebuah wawancara dengan the Guardian pasca peristiwa 11 September mengatakan, "Islam adalah satu-satunya sistem budaya yang mengancam modernitas Barat." Dia menambahkan, "Untuk membentung resistensi dan perlawanan Islam terhadap modernitas Barat, AS bisa menggunakan kekuatan militernya." Pernyataan senada disampaikan William Cohen, mantan Menteri Pertahanan AS yang juga dikenal sebagai salah seorang pakar strategik. Dia mengatakan, "Perang yang digelar AS dan sekutu-sekutunya terhadap Islam adalah Perang Dunia keempat. Sementara, Presiden George W Bush menyebut perang ini sebagai perang Salib Kedua.

Rod Parsley, pendeta AS yang dikenal sebagai penyebar faham Zionisme Kristen lewat kitab yang ditulisnya berjudul ‘The 2005 Silent No More' mengklaim bahwa Tuhan telah membebankan tugas ke pundak AS untuk mengalahkan Islam. Parsley memaparkan teori itu demi membenarkan kebijakan perang yang dijalankan Gedung Putih di dua negara Islam yaitu Irak dan Afghanistan. Namun, setelah nampak kegagalan AS di Irak dan Afghanistan, dan kandasnya program Timur Tengah Baru yang dinilai sebagai gagalnya cara militer Barat dalam menghadapi Islam, kebijakan anti Islam memasuki periode yang baru.

Tahun 2005, umat Islam di seluruh dunia dibakar amarah setelah koran Denmark Jyllands Posten memuat karikatur yang menghina Nabi Muhammad Saw. Aksi itu sekaligus menjadi tabuhan awal genderang dari Barat untuk melakukan penghinaan terhadap Islam. Menyusul karikatur di Denmark yang dimuat ulang oleh banyak media di negara-negara Barat, tokoh anti Islam di Belanda Geert Wilders membuat film singkat yang menghina Islam. September lalu, sekelompok orang di New York melakukan aksi pembakaran al-Qur'an. Aksi serupa kemudian terjadi di Australia lalu Perancis. Sekarang pelecehan terhadap Islam dilakukan secara lebih sistematis, lebih keji dan lebih luas jangkauannya. (IRIB/AHF/SL)

0 komentar:

Poskan Komentar